Oleh: andika | Februari 21, 2009

Arjuna dan Sang Bidadari

 Namanya Arjuna, persis nama seorang tokoh dalam
 dunia pewayangan. Tapi ia tak tampan, tak gagah.
 Apalagi digila-gilai oleh wanita. Arjuna yang ini
 hanya seorang penjual ulat sebagai pakan burung yang
 penghasilannya tidak menentu. Tinggalnya di sebuah
 rumah sederhana dengan ibundanya yang sudah berusia
 70 tahunan. Sejak usia 2 tahun Arjuna menderita
 lumpuh. Penyebabnya adalah demam yang sangat tinggi
yang kemudian merusak syarafnya.
 
 Arjuna kini sudah 40 tahun dan tetap lumpuh. Ia pun
 masih tetap ulet menjalankan profesinya. Sejak
 beberapa waktu yang lalu ia mempunyai kegemaran
 baru, suka mengikuti pengajian dari masjid ke
 masjid. Dari pengembaraannya itu akhirnya ia jatuh
 cinta pada sebuah masjid di sebuah pondok pesantren
yang dipimpin oleh seorang kyai yang masih muda dan
 berkharisma.
 
 Pagi itu Arjuna tampak rapi dan wangi. Ia
 menggunakan baju terbaiknya, sebuah baju koko
 berwarna putih yang dimintanya pada sang ibu untuk
 disetrika licin-licin. Ia sudah siap menuju
 pengajian di pondok pesantren. Jaraknya lumayan,
 dari Jl. Pendawa Dalam, Bandung, ke daerah
 Gegerkalong Girang. Apalagi bagi seseorang yang tak
 berfisik sempurna seperti Arjuna, jarak itu terasa
 lebih dari sekedar lumayan.
 
 Arjuna merangkak di depan rumahnya, lalu dengan
 suara cadelnya berteriak memanggil becak di ujung
 jalan. Sang tukang becak pun tanggap dengan
 panggilan Arjuna. Ia mafhum, Arjuna pasti akan pergi
 ke pondok pesantren.
 
 Arjuna duduk manis di dalam becak, hingga sampai ke
 jalan besar. Di jalan besar, sang tukang becak
 membantu memanggilkan taxi. Satu taxi lewat, taxi
 berikutnya juga, dan berikutnya, lalu berikutnya.
 Arjuna tetap duduk manis di dalam becak, tersenyum.
 Keringat mengucur di tubuh sang tukang becak yang
 tampak sedikit kesal tidak satu pun taxi yang mau
 berhenti.

 Membawa Arjuna sebagai penumpang taxi memang
 berbeda. Sang sopir taxi harus rela membantu
 menggendongnya. Maka tak heran kalau tak semua sopir
 taxi mau. Tapi Allah selalu memberikan
 pertolongan-Nya. Sebuah taxi meluncur pelan dan
 berhenti. Sampai di pondok pesantren Arjuna disambut
 oleh beberapa orang jemaah. Ia sama sekali tak
 dipandang sebelah mata. Justru banyak orang yang
 sayang padanya, termasuk sang kyai.
 
 Ceramah pun dimulai. Seperti kali yang lalu. kali
 ini Arjuna tak mampu membendung air matanya.
 Semangatnya membara. Bukan hanya itu bahkan
 bergejolak. Bagai sebuah handphone yang perlu
 di-charge, inilah saat-saat Arjuna menge-charge
 jiwanya. Total biaya Rp.50.000,- yang harus ia
 keluarkan untuk pulang pergi ke pondok pesantren,
 serasa tak ada harganya dibanding dengan setrum yang
 menyulut dirinya. Ajuna jadi lebih semangat bekerja,
 lebih semangat mengumpulkan uang untuk bisa datang
 ke pengajian.

 Arjuna sekarang jadi rajin ibadah malam. Sifat
 pemarahnya mulai hilang, jadi lebih sabar dan
 optimis. Pelan-pelan keinginan itu muncul. Suatu
 keinginan yang sama sekali tak pernah berani untuk
 ia mampirkan walau sekilas di kepalanya.
 
 “Ibu, Arjuna kepingin kawin!” Suara cadel Arjuna
 bagai geledek yang memecah kesunyian malam di
 telinga sang ibu.
 
 “Arjuna enggak mimpi kan?” sang ibu bertanya sambil
 menguncangkan tubuh Arjuna yang tergolek lemah di
 tempat tidur.
>
 ” Eh ibu, Arjuna mah bangun. Ini enggak mimpi.
 Sungguhan, Arjuna kepingin kawin.”
 
 Sang ibu menelan ludahnya beberapa kali, miris.
 “Jang, kamu teh mau kawin sama siapa?”
 
 “Nggak tau. Tapi Arjuna sudah minta sama Allah.”
 
 Mata sang ibu hampir-hampir tak kuat membendung air
 mata yang hendak tumpah. “Bener atuh, kalau memohon
 ya sama Allah.”
 
 Sang ibu bingung apa yang harus ia lakukan.
 Menghibur Arjuna dan membangun mimpi-mimpi indah
 yang kosong melompong. Atau membuatnya melek melihat
 kondisi cacatnya. Tapi itu sama saja artinya dengan
 menghempaskannya ke jurang dalam. Sang ibu cuma bisa
 menyerahkan pada Allah, apapun kehendak-Nya.
 
 Malam purnama. Arjuna baru saja selesai sholat
 tahajud. Ia merenungi keinginannya yang mulai
 menjadi azzam. Pikirannya berkecamuk. “Tapi, kalau
 nanti punya istri pasti biaya akan bertambah.
 Sekarang saja hidup sudah pas-pasan. Ah, rejeki kan
 sudah diatur oleh Allah, tinggal kita yang harus
 ikhtiar. Tapi, mau nikah sama siapa. Eh, iya ya.
Siapa yang mau sama saya yang jalan aja mesti
 merangkak, mau ke mana-mana mesti digotong. Ah, itu
 kan sama juga, jodoh sudah diatur sama Allah.
 Tinggal ikhtiar saja. Besok saya akan bilang sama
 Pak Kyai, minta dicarikan istri.”
 
 “Pak Kyai, saya kepingin kawin!”
 
 Pak Kyai itu pun kaget tak beda seperti ekspresi
 sang ibu ketika mendengar ucapan Arjuna. Dengan
 sabar Kyai berkata, “Wah bagus itu. Menikah kan
 sunnah Rasulullah, apalagi kalau niatnya untuk
 ibadah.”
 
 “Iya, iya, saya kepingin kawin karena kepingin
 ibadah. Kepingin punya anak-anak yang normal dan
 berjuang di jalan Allah.”
 
 “Arjuna mau menikah dengan siapa?”
 
 “Saya ingin minta dicarikan sama Pak Kyai.”
 
 Pak Kyai pun menggaruk-garuk kepalanya. Bukan amanah
 yang ringan. Sudah berkali-kali ia mempertemukan
 jodoh diantara santri-santrinya. Diantaranya  ada
 juga yang tidak sekali langsung jadi. Itu pun
 santri-santri yang normal, tapi Arjuna…?!
 
Sang Kyai bukan mengecilkan arti Arjuna. Semua orang
 sudah ditentukan takdirnya oleh Allah. Dan tak akan
 tahu takdirnya bagaimana kecuali dengan berusaha.
 Tapi usaha yang harus dilakukan untuk mencari istri
 untuk Arjuna bukan perkara mudah. Tapi Allah
 berkehendak lain. Sang Kyai akhirnya menemukan sang
 gadis.
 
 Gadis itu normal, juga sholehah. Ia salah satu
 jamaah yang kerap mengikuti pengajian Kyai. Kyai
 mengucap syukur yang tiada tara, karena akhirnya
 gadis itu mengucapkan kesediaannya menikah dengan
 Arjuna.
 
 Ina, gadis itu, jelas-jelas tahu Arjuna yang akan
 dinikahinya berfisik tak sempurna.
Sangat jauh dari
 gambaran tokoh Arjuna yang ada di lirik lagu.
 
 “Kenapa Ina mau menikah dengan Arjuna?” tanya sang
 Kyai. “Ina sudah tahu apa resikonya? Apa yang akan
 dihadapi di kemudian hari?”
 
 “Niat saya cuma ingin mencari keridhoan Allah. Saya
 ingin menjadi bidadari di syurga nantinya,” kata
 sang gadis dengan mantap.
 
 Pagi hari di bulan Agustus 2002 itu seakan bersinar
 lebih cerah dari biasanya bagi Arjuna. Sebelum
 berangkat, ia menangis. Bukan sedih, justru
 kebahagiaan luar biasa yang tak terbendung. Suatu
 keajaiban yang tak pernah ia bayangkan akan
 terwujud. Mulanya hanya sebuah keinginan, lalu
 menjadi tekad, dan kini menjadi nyata. Allah
 mengabulkan permohonannya.
 
 Terbata-bata Arjuna mengucapkan ijab kabul. Bukan
 karena grogi, tapi karena memang ia kesulitan
 mengucapkan kata-kata. Dua ratus pasang mata ikut
berlinangan airmata, tak kuasa menahan haru yang
 tiba-tiba menyeruak. Arjuna menyerahkan mas kawin
 berupa 23 gram emas kepada istrinya. Lalu Arjuna
bersujud di hadapan ibunya, menangis tersedu-sedu.
 
 Di hadapan para tamu, sang Kyai berkata, “Kita harus
 banyak belajar dari Arjuna, seseorang yang diberi
 ujian berupa kekurangan fisik dari Allah, namun
 tidak takut dan berani mengambil keputusan terhadap
 masa depannya. Arjuna adalah contoh seseorang yang
 berserah kepada Allah, yakin akan rejeki yang sudah
 ditetapkan-Nya. Semoga Allah memberkahi pasangan
 pengantin ini, menjadikannya sakinah, mawadah,
 warrahmah.” Doa sang Kyai ini pun di amini oleh para
 tamu walimah.

 Arjuna memandangi istrinya penuh haru. Ina baru saja
 selesai mencuci baju. Arjuna senang sekali, kini ia
 tak lagi mencuci baju sendiri seperti ketika
 bujangan dahulu. Ina juga selalu merawat dengan
 penuh ikhlas dan telaten. Seorang gadis telah Allah
 kirim untuk menjadi pendampingnya di dunia.


Tanggapan

  1. Hiks.. jadi pengen malu ama Arjuna
    Kurang apalagi yah? pendidikan dapet
    Maisyah ada
    Fisik sehat..
    nunggu apa lagi yah
    (Mo nya sih nulis monolog di album Suara persaudaraan tapi lupa wekekekekekekek)

  2. So kapan nyusul si Arjuna ya Syaikh? or tinggal nunggu hari yah?

    • Ya, tunggu aja harinya, insya Alloh disegerakan, (belum tau kapan)

  3. Hehehehe semoga Allah menguatkan makna Isya Alloh yang ente tuliskan ya syaikh


Beri tanggapan

Your response:

Kategori